Senin, 25 Mei 2009

Sekolah Bayi Vs Biaya Kuliah

Warga kota semakin takut punya anak bodoh. Karena itu, meski umur belum dua tahun, bayi-bayi mereka mulai disekolahkan. Biaya pun tak menjadi soal, meski lebih mahal daripada perguruan tinggi.

---

Misalnya, yang dilakukan pasangan Teddy Wijono dan Anne Budiman. Sudah empat bulan ini, anak pertama mereka, Tracey Cheryl, yang berumur 1 tahun 8 bulan, disekolahkan.

Mereka tak asal memilih sekolah. "Kami sebelumnya survei di tiga tempat,'' cerita Anne. Akhirnya, anak mereka disekolahkan di Tumble Tots mal Ambasador, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Program yang diambil adalah gymbabes. Yakni, program untuk bayi berusia 6-12 bulan atau bagi bayi yang belum bisa berjalan.

Pasangan itu mengambil kelas seminggu dua kali untuk buah hati mereka. Biaya yang mereka keluarkan tiap bulan sekitar Rp 400 ribu. Jika memilih seminggu tiga kali, biayanya Rp 500 ribu. Itu belum termasuk biaya pendaftaran yang dipatok Rp 200 ribu dan kartu keanggotaan Rp 750 ribu yang berlaku selama anak bersekolah di Tumble Tots.

Di Jakarta, setidaknya ada tiga sekolah yang memiliki program pendidikan untuk bayi berusia 0-12 bulan. Selain Tumble Tots, ada Gymboree dan Tutor Time. Hal itu menunjukkan bahwa semakin banyak orang tua di kota sebesar Jakarta yang menyadari pentingnya menyekolahkan anak mereka sejak dini.

Padahal, biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Di Gymboree, misalnya, biaya masuk ke sekolah tersebut Rp 500 ribu-Rp 650 ribu. Itu bergantung pada program pendidikan yang diambil. Plus biaya membership sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Itu belum termasuk biaya rutin atau SPP yang dibayar tiap bulan. Nominalnya bergantung pada program yang diambil. Jika orang tua (ortu) memilih program seminggu sekali, SPP yang harus dibayar Rp 300 ribu-Rp 400 ribu. Seminggu dua kali, biayanya Rp 500 ribu-Rp 550 ribu dan seminggu tiga kali Rp 850 ribu-Rp 1 juta.

Di Tutor Time, biaya yang harus dirogoh ortu untuk menyekolahkan anak hampir sama. Bedanya, di lembaga pendidikan tersebut, program untuk bayi hanya diadakan seminggu sekali. Yaitu, tiap Sabtu. Biaya pendaftaran yang harus dibayar USD 50 atau sekitar Rp 500 ribu. Biaya sekolah yang harus dibayar USD 150 atau Rp 1,5 juta untuk tiap 10 kali pertemuan (selengkapnya baca grafis).

Coba kita bandingkan dengan biaya di perguruan tinggi. Di Universitas Indonesia (UI), misalnya. Biaya SPP tiap semester cukup bervariasi. Untuk program eksak, SPP paling murah Rp 100 ribu per semester dan paling mahal Rp 7,5 juta. Untuk program non-eksak, SPP paling murah Rp 100 ribu dan termahal Rp 5 juta. Dengan biaya itu, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan setiap hari (perbandingan dengan kampus lain baca grafis di halaman 4).

Lantas, apa saja yang diajarkan di sekolah bayi? Lembaga pendidikan franchise dari Amerika, Gymboree, menawarkan program play, music, dan art. Namun, khusus untuk bayi berusia 6-12 bulan hanya diajari play dan music.

Penanggung jawab Gymboree di kawasan Menteng, Jakarta, Christina Catherine mengatakan, program play menitikberatkan untuk melatih motorik kasar. Mereka menyediakan berbagai peralatan yang dapat merangsang motorik kasar bayi. Contohnya, papan penguin untuk melatih anak berjalan. Papan itu berbentuk lurus melintang dan di tengahnya ada pembatas. Anak diajari untuk jalan di antara pembatas tersebut. Termasuk, mainan bola-bola kasar untuk merangsang motorik kasar.

''Tujuannya melatih pancaindra mereka. Seperti, kemampuan untuk melihat, mendengar, mencium, dan merasakan,'' ungkapnya.

Catherine menjelaskan, bahasa pengantar yang dipakai untuk mengajar di sekolahnya adalah bahasa Inggris. Dengan demikian, anak-anak bisa sekaligus belajar bahasa Inggris sejak dini. ''Bahasa percakapan kami bahasa Inggris. Tujuannya supaya mereka belajar bahasa itu sejak kecil,'' jelasnya.

Tak hanya itu, bayi-bayi tersebut juga mulai diajari berhitung. Caranya melalui bernyanyi sekaligus belajar bahasa Inggris. ''Dengan metode menyanyi, bayi-bayi itu mulai mengucapkan kata-kata one, two, three, meski kadang mereka mengucapkannya tidak berurutan,'' ujar Catherine. Bernyanyi juga dianggap bisa melatih sensorik halus. Dengan demikian, kemampuan anak untuk berbicara meningkat.

Namun, sebenarnya, kata Cahterine, inti pembelajaran pada bayi berusia 0-12 bulan adalah memupuk hubungan antara ibu dan anak. Sebab, masih banyak orang tua yang kurang tahu cara menghadapi bayinya. Karena itu, pembelajaran yang dilakukan sebisanya didampingi orang tua. Cara tersebut diharapkan bisa lebih mendekatkan hubungan ibu-bayi.

Catherine menjelaskan, pengajaran yang diterapkan berdasar kurikulum pendidikan yang diterapkan Gymboree Amerika. Pelajaran diberikan berdasar silabus yang dikirim dari Amerika. ''Ada tahap-tahap pengajaran. Jadi, ada panduannya, bukan sekadar mengajari anak bisa melakukan sesuatu dan berkembang,'' paparnya.

Di Tutor Time Pondok Indah, Jakarta Selatan, program pendidikan bayi diberi nama mommy and me. Program itu untuk bayi berusia 0-24 bulan. Mayoritas ortu mengambil program tersebut untuk bayi berusia 0-13 bulan. GA Manager Tutor Time di Pondok Indah Petra Ho mengatakan, ada tiga program yang diajarkan Tutor Time.

Pertama, music and movement untuk melatih motorik kasar. Program itu mengajari bayi bernyanyi maupun bermain. Contohnya, bermain tummy rolling untuk melatih otot perut dan menguatkan otot kaki serta tangan.

Kedua, art and sensory untuk melatih motorik halus. Bayi diajari menggambar atau melukis dengan menggunakan jari sehingga diharapkan melatih motorik halus. Mereka diperkenalkan menggambar dengan menggunakan cat untuk melatih indra penciuman. ''Untuk merangsang indra penciuman anak sejak dini,'' jelasnya. Ketiga, early language. Yaitu, mengajari mereka bernyanyi sambil belajar bahasa Inggris.

Untuk pengajaran di Tumble Tots, prinsipnya melatih motorik kasar dan halus bayi. Instrumen permainan yang dipakai hampir sama. Di Tumble Tots tersedia berbagai permainan, seperti tunnel box, alat agar bayi belajar merangkak. Juga barrel support, alat untuk mengajari bayi merangkak, namun disertai rintangan. Juga ada sliding board atau papan luncur. ''Semuanya untuk merangsang motorik kasar bayi,'' terang Herna Hariadi, penangung jawab Tumble Tots di mal Ambasador.

Herna menjelaskan, ada dua kelas untuk bayi. Yaitu, kelas gymbabes untuk bayi yang belum bisa berjalan (di bawah setahun) dan kelas W-2 untuk bayi berusia 10 bulan ke atas atau bagi bayi yang sudah bisa berjalan.

Di Indonesia, ada sekitar 30 sekolah Tumble Tots yang tersebar di seluruh kota besar.

***

Mengapa bayi harus disekolahkan? Christina Catherine dari Gymboree mengatakan, golden age atau usia emas melatih kecerdasan anak adalah 0-5 tahun. Pada masa-masa itu, amat penting memberikan stimulus pendidikan terhadap anak sejak dini. ''Karena yang dimaksud belajar di sini tidak melulu yang berat-berat. Contohnya, ya itu tadi mulai merangsang motorik kasar dan halus,'' ungkapnya.

Herna Heriadi dari Tumble Tots mengiyakan bahwa pembelajaran pada bayi tidak harus mempelajari sesuatu yang serius. Melainkan, bisa dengan cara bermain. Melalui bermain, menyanyi, bercerita kata Herna, diajarkan banyak hal positif yang menyenangkan. Menurut anda Bagaimana dengan anak balita anda?
Jangan lantarkan mereka demi suksesnya program pemerintah dan anak anda (* jawa pos/Rkm////

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar